DC United berbagi tips dan saran dengan para pelajar serta mahasiswa Indonesia.

                                 Tiga pemain muda DC United berfoto bersama pejabat Dubes AS untuk Indonesia, Kristin Bauer.

    Dalam rangka turnya ke Indonesia, DC United turut menyempatkan diri berbagi pengalaman serta tips berlatih kepada kira-kira 250 pelajar, mahasiswa, dan media dalam acara bincang-bincang yang difasilitasi Kedubes Amerika Serikat di Atamerica, Jakarta, Rabu (4/12) sore.
     DC United akan menggelar dua kali pertandingan eksebisi di Indonesia, yaitu di Bandung, Jumat lusa, serta di Malang, akhir pekan ini. Tim berjuluk "Black-and-Red" ini menjadi tim Major League Soccer (MLS) kedua yang berkunjung ke Indonesia setelah Los Angeles Galaxy, dua tahun silam. Sebelumnya, hubungan sepakbola antara Indonesia dan Amerika Serikat telah terjalin lebih dari tiga dasawarsa.
     Pada 3 Oktober 1979, New York Cosmos pernah melawat ke Jakarta dengan membawa para pemain bintang antara lain Franz Beckenbauer, Johan Neeskens, dan Giorgio Chinaglia. Pada pertandingan eksebisi itu Cosmos berhasil mengalahkan timnas Indonesia 4-1. Seakan tak mau kalah, setahun berselang, yaitu pada 19 dan 21 Oktober 1980, giliran Johan Cruyff bersama Washington Diplomats tampil unjuk kebolehan menghadapi tim PSSI Utama dan Galatama Selection.

"Kedatangan DC United ini diharapkan kian mendekatkan hubungan Indonesia dan Amerika Serikat melalui sepakbola," ujar PJS Dubes Amerika Serikat untuk Indonesia, Kristin Bauer, kepada wartawan.

     DC United mengutus tiga pemain mudanya ke acara tersebut, yaitu Jared Jeffrey, Conor Doyle, dan Ethan White. Semuanya masih berusia 23 tahun ke bawah dan mereka tidak segan menjawab sejumlah pertanyaan hadirin yang penasaran dengan kehidupan pemain muda sebagai pesepakbola profesional, seperti misalnya tipe latihan yang harus dijalani, cara menjaga mental, dan jenis makanan yang mereka konsumsi tiap hari.
     Selama satu jam para pelajar dari sembilan SLB Subang yang bekerja sama dengan ASA Foundation, siswa SSB Salfas Soccer Tangerang, dan mahasiswa Universitas Negeri Jakarta menyerbu tiga pemain muda DC United itu dengan berbagai pertanyaan. Ketiganya telah menekuni sepakbola sejak usia muda berkat pengaruh keluarga masing-masing. Bukan hal yang mudah menjatuhkan pilihan kepada sepakbola di negeri yang lebih mengenal bola basket, American Football, baseball, ataupun hoki es itu. Belum lagi menjaga pergaulan dengan teman-teman sebaya.

"Soal latihan kami lebih banyak melibatkan pengondisian fisik. Segala sesuatunya tentang biometrik," ujar White.

Jeffrey ikut menambahkan, "Kami biasanya melakukan latihan pagi selama dua jam, kemudian melakukan yoga, pilates, soccer tennis, lalu makan siang, dan yang paling penting adalah isitrahat."

"Soal makanan memang ada godaan untuk menyantap fast food, tapi tentu kami tidak diperbolehkan supaya menjaga kebugaran tubuh. Kami juga harus menghindari gorengan."

"Kami juga harus menjaga pergaulan karena di usia remaja ketika teman-teman kami berpesta, seperti yang bisa kalian lihat di film-film, kami tetap harus berlatih. Buat saya tidak masalah kehilangan momen itu, karena saya berpikir, 'Lihatlah, di usia 25 tahun nanti saya akan bermain di depan ribuan orang!'"

     Doyle mengatakan, pemain muda punya tantangan tersendiri agar dapat menuai kepercayaan dimainkan di tim inti. Selain harus menjaga penampilan, mereka juga harus bersaing memperebutkan posisi dengan para pemain yang telah berpengalaman. Pengalaman bermain merupakan kesempatan yang tak boleh disia-siakan seorang pemain muda.

"Harusnya pemain muda diberi kesempatan lebih banyak. Sulit bagi kami menembus skuat utama, jadi kami harus pandai memanfaatkan peluang yang ada. Kami harus bisa menjaga penampilan dari pekan ke pekan," ujar Doyle.

     Ditambahkan pula oleh Jeffey, kesempatan bermain di luar negeri juga tidak boleh disia-siakan. Pemain 23 tahun ini, bersama Doyle, pernah mencicipi sepakbola Eropa. Jika Jeffrey menghabiskan lima tahun bermain di kompetisi junior Jerman, Doyle memperkuat Derby County sebelum dipinjamkan ke DC United, Juli lalu.

"Pemain muda juga perlu meraih kesempatan bermain di luar negeri. Kesempatan itu akan membawa mereka keluar dari zona nyaman serta memberikan pengalaman tersendiri," tukas Jeffrey.

     Tentu saja kesempatan itu kian terbuka lebar seiring dengan kerja sama strategis yang dijalin DC United dengan klub top Serie A Italia, Internazionale. Seperti diketahui, saham mayoritas kedua klub ini dimiliki oleh pengusaha Indonesia, Erick Thohir.

"Tentu saja semua pemain memiliki motivasi untuk bermain di level tertinggi. Kerja sama tersebut dapat memberikan pencapaian besar bagi para pemain muda DC United dan syukur lah kesempatan ini terbuka bagi seluruh anggota tim,"

     Pengembangan pemain muda merupakan salah satu fokus pembenahan skuat yang dilatih Ben Olsen itu. Paduan antara pemain muda serta berpengalaman diharapkan mampu meningkatkan performa tim musim mendatang. Di musim 2013, DC United merupakan klub peraih trofi US Open Cup, tetapi terpuruk di dasar klasemen kompetisi reguler Wilayah Timur MLS.
DC United berbagi tips dan saran dengan para pelajar serta mahasiswa Indonesia. Reviewed by MRizki on 6:59 AM Rating: 5
All Rights Reserved by Blog Info Olahraga © 2014 - 2015
Powered By Blogger, Share by Star Tuan

Contact

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.